pendidikan benefit atau profit

“ma, kan sekarang guru-guru lagi butuh sertifikat buat sertifikasi nih. nah ane mo bikin roadshow pelatihan guru di beberapa kota. kita main volume aja ma. ane butuh lo buat jadi program manager-nya nih”, begitu kira-kira tawaran seorang teman beberapa tahun lalu.

“gimana pak Idzma, sanggup? berapa ratus guru dalam satu pelatihan yang pak Idzma sanggup hadirkan? saya mau pelatihan ini ada di 5 kota besar Indonesia” sebuah pertanyaan dari seorang konsultan bisnis yang ingin melakukan roadshow pelatihan untuk guru-guru.

“itu sekolah islam yang mahal, orang miskin ga akan sanggup sekolah disana. padahal sekolah itu berdiri di atas tanah wakaf yang diwakafkan untuk pendidikan? trus uang hasilnya kemana? buat umat? atau dimakan sendiri sama orang yayasan?” protes seorang senior dalam sebuah diskusi tentang social entrepreneur.

“anak saya stress nih kak, di TK dijejelin bahasa inggris, di drill harus bisa membaca, nulis dan ngitung” cerita seorang bunda yang bingung karena anaknya tertekan di sebuah sekolah.

“disini diajarin juga bahasa inggris, day care kami billingual” iklan seorang pengelola daycare. iklan yang sama saya dapatkan di beberapa play group, TK dan SD.

“menyediakan kursus calistung dan bahasa inggris untuk TK” kira2 begitu bunyi sebuah iklan yang saya lihat.

“ya bayar segini kalo saya mau ajarin ilmunya” kalimat ini, terdengar tak asing bukan?

“‘saya udah bayar mahal disini, saya ga mau tau. saya mau anak saya sholeh dan pinter sekolah disini’ itu yang ada di benak orang tua yang nyekolahin anaknya di Sekolah Islam terpadu ma” keluh seorang sahabat yang juga seorang guru di sekolah islam.

“jadi kalo mo bisnis pendidikan itu, yang penting profit atau benefit?” sebuah pertanyaan yang muncul di benak saya ketika melihat “industri” pendidikan saat ini. Akhir-akhir ini, saya memperhatikan apa yang terjadi di dunia pendidikan, dan entah kenapa “iseng” membuat kesimpulan, ada perbedaan bisnis pendidikan yang dikelola oleh seorang pendidik dan yang di kelola oleh pengusaha. keduanya memang mengaku pendidik atau melakukan bisnis untuk kebaikan anak Indonesia. sekilas keduanya terlihat sama, tapi menjadi berbeda ketika mengetahui sudut pandang masing-masih dalam melihat sebuah masalah. seorang pendidik dan social entrepreneur akan melihat seberapa besar benefit yang dihasilkan dari bisnis pendidikannya, seorang pengusaha akan berfikir berapa profit yang didapatkannya.

Ketika melakukan sebuah pelatihan guru, seorang pendidik atau social entrepreneur akan melihat masalah kurangnya kapasitas guru, sebagai alasan membuat sebuah pelatihan untuk guru-guru. Kurangnya kapasitas guru membutuhkan peningkatan kapasitas guru, bentuknya bisa dalam pelatihan guru. Seorang pengusaha akan melihat peluang dibutuhkannya sertifikat oleh guru-guru yang mau ikut sertifikasi.

Ketika membuat sekolah, seorang pendidik dan social entrepreneur berfikir berapa besar stimulasi yang bisa ia berikan pada anak-anak Indonesia. Sedangkan seorang pengusaha akan menghitung berapa keuntungan yang ia dapat per siswanya sehingga membuat pendidikan menjadi industri. Memasukkan hal-hal yang tidak perlu demi “prestise” dan supaya orang tua membayar lebih banyak lagi.

Masih banyak contoh lain yang bisa kita lihat dengan kasat mata. Jadi, menurut anda bisnis pendidikan itu yang penting benefit atau profit?

#GalauPagi

(Kak Admin)